BASEL, 19 Juni 2026 – Granit Xhaka kembali mencuri perhatian, bukan hanya karena penampilannya di lapangan, tetapi juga lewat selebrasi unik yang disebut banyak penggemar sebagai selebrasi “cuap-cuap”. Gerakan tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai pesan yang ingin disampaikan gelandang Swiss itu setelah mencetak gol atau berkontribusi dalam pertandingan.
Selebrasi yang dimaksud umumnya dilakukan dengan gerakan tangan di dekat mulut, seolah menggambarkan seseorang yang terus berbicara. Di dunia sepak bola, gestur semacam ini sering diartikan sebagai respons terhadap kritik, keraguan, atau komentar yang terus-menerus ditujukan kepada seorang pemain.
Banyak pengamat menilai selebrasi tersebut merupakan cara Xhaka menunjukkan bahwa dirinya tidak terlalu terpengaruh oleh berbagai komentar dari luar lapangan. Sebagai pemain yang sepanjang kariernya sering berada di bawah sorotan, Xhaka memang tidak asing dengan kritik, baik saat membela klub maupun tim nasional.
Dalam beberapa kesempatan, pemain berusia 33 tahun itu dikenal memiliki karakter kuat dan tidak ragu menunjukkan emosinya di lapangan. Karena itu, selebrasi “cuap-cuap” dipandang sebagai ekspresi kepercayaan diri sekaligus pesan bahwa ia lebih memilih menjawab kritik melalui performa daripada perdebatan verbal.
Meski begitu, Xhaka tidak secara eksplisit selalu menjelaskan makna di balik setiap selebrasinya. Hal tersebut membuat publik dan media kerap memberikan interpretasi masing-masing terhadap gestur yang ditampilkan sang gelandang setelah mencetak gol atau meraih kemenangan penting.
Bagi sebagian pendukung, selebrasi itu juga dianggap sebagai simbol perjuangan seorang pemain yang telah melalui berbagai tantangan dalam kariernya. Dari masa-masa sulit hingga kembali tampil sebagai salah satu gelandang paling berpengaruh di Eropa, perjalanan Xhaka memang penuh dinamika.
Di era sepak bola modern, selebrasi sering kali menjadi bagian dari identitas seorang pemain. Tidak sedikit pesepak bola yang menggunakan gestur tertentu untuk menyampaikan pesan kepada pendukung, rekan setim, keluarga, maupun para pengkritiknya.
Bagi Granit Xhaka, selebrasi “cuap-cuap” tampaknya lebih dari sekadar perayaan gol. Gestur tersebut menjadi simbol keteguhan, kepercayaan diri, dan cara uniknya merespons berbagai suara yang terus mengiringi perjalanan kariernya di level tertinggi sepak bola dunia.