Jakarta, 1 September 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku mengamankan lima ekor burung Kasturi Ternate dalam kegiatan uji coba Wildlife Detection Dog (WDD) di Pelabuhan Laut Yos Sudarso, Ambon. Kegiatan tersebut berlangsung pada 28-29 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas satwa liar melalui jalur transportasi laut. Penggunaan anjing pelacak satwa diharapkan dapat membantu petugas mendeteksi keberadaan satwa dilindungi yang dibawa tanpa dokumen atau tidak sesuai ketentuan. Kasturi Ternate merupakan salah satu jenis burung yang mendapat perlindungan sehingga peredarannya perlu diawasi secara ketat. Pengamanan lima ekor burung tersebut menjadi salah satu hasil penting dari pelaksanaan uji coba sistem deteksi tersebut.
Uji coba WDD dilakukan BKSDA Maluku bersama sejumlah pihak yang memiliki kewenangan dalam pengawasan transportasi laut dan perlindungan satwa. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menguji kemampuan metode deteksi dalam kondisi operasional di pelabuhan. Petugas melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas penumpang dan barang yang berada di lingkungan pelabuhan. Penggunaan anjing pendeteksi satwa liar diharapkan dapat membantu mempercepat proses identifikasi ketika terdapat indikasi keberadaan satwa yang dibawa secara ilegal. Pendekatan tersebut juga dinilai dapat memperkuat pencegahan sebelum satwa berhasil dipindahkan ke daerah tujuan.
Kasturi Ternate yang diamankan selanjutnya perlu mendapatkan penanganan sesuai prosedur konservasi. Satwa hasil pengamanan tidak dapat langsung dikembalikan ke alam tanpa melalui pemeriksaan kondisi fisik dan tahapan penanganan yang diperlukan. Petugas konservasi perlu memastikan kondisi kesehatan burung serta menilai kemampuan satwa untuk kembali beradaptasi dengan lingkungan alaminya. Proses karantina dan rehabilitasi dapat dilakukan apabila diperlukan sebelum satwa dikembalikan ke habitat. Tahapan tersebut penting agar pengamanan tidak hanya menghentikan peredaran satwa, tetapi juga memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup satwa tersebut.
Pengawasan terhadap Kasturi Ternate menjadi penting karena perdagangan dan pengangkutan satwa liar dapat mengancam keberadaan populasi di habitat alaminya. Penangkapan dari alam secara terus-menerus dapat mengurangi jumlah individu dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian apabila satwa dibawa keluar dari wilayah asalnya tanpa dokumen dan prosedur yang sesuai. BKSDA memiliki peran dalam memastikan lalu lintas satwa dilindungi berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan di titik transportasi seperti pelabuhan menjadi salah satu bagian penting dalam mencegah satwa keluar dari habitatnya secara ilegal.
Pelabuhan Yos Sudarso Ambon menjadi salah satu titik strategis untuk melakukan pengawasan karena melayani mobilitas masyarakat dan distribusi barang antarpulau. Jalur laut dapat dimanfaatkan untuk membawa berbagai jenis barang, termasuk satwa apabila tidak diawasi dengan baik. Karena itu, pemeriksaan yang dilakukan secara rutin dapat membantu mengurangi peluang terjadinya penyelundupan satwa. Petugas juga perlu meningkatkan kemampuan dalam mengenali pola pengangkutan satwa yang tidak sesuai ketentuan. Penerapan teknologi dan metode deteksi baru diharapkan dapat melengkapi sistem pengawasan yang selama ini dilakukan.
Uji coba WDD juga melibatkan kerja sama lintas instansi untuk memperkuat pengawasan di kawasan pelabuhan. Sinergi diperlukan karena penanganan lalu lintas satwa liar tidak hanya berkaitan dengan aspek konservasi, tetapi juga menyangkut karantina, keamanan, dan operasional transportasi. Koordinasi antara petugas dapat mempercepat proses ketika ditemukan satwa yang perlu diamankan. Pertukaran informasi juga dapat membantu mengidentifikasi jalur yang berpotensi digunakan untuk membawa satwa secara ilegal. Dengan mekanisme yang terintegrasi, pengawasan di pintu keluar-masuk wilayah Maluku diharapkan menjadi lebih efektif.
Keberhasilan mengamankan lima burung Kasturi Ternate dalam uji coba tersebut memberikan gambaran mengenai potensi penggunaan WDD dalam kegiatan pengawasan satwa. Metode tersebut dapat dikembangkan untuk membantu mendeteksi keberadaan satwa yang tersembunyi di dalam barang bawaan maupun tempat pengangkutan. Namun, penggunaan anjing pendeteksi tetap perlu didukung dengan kemampuan petugas, prosedur pemeriksaan, serta fasilitas penanganan satwa yang memadai. Setiap temuan harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan penanganan sesuai ketentuan. Pengembangan sistem secara bertahap diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengawasan satwa liar di Maluku.
BKSDA Maluku juga terus mendorong kesadaran masyarakat agar tidak menangkap, memelihara, mengangkut, atau memperjualbelikan satwa dilindungi tanpa izin. Masyarakat yang mengetahui adanya aktivitas perdagangan atau pengangkutan satwa ilegal dapat membantu dengan melaporkan kepada pihak berwenang. Upaya konservasi tidak dapat hanya mengandalkan petugas karena wilayah pengawasan yang luas membutuhkan keterlibatan masyarakat. Edukasi mengenai status perlindungan satwa juga perlu dilakukan secara berkelanjutan, khususnya di daerah yang menjadi sumber maupun jalur pengiriman satwa. Dengan meningkatnya kesadaran publik, tekanan terhadap populasi satwa liar di alam diharapkan dapat dikurangi.
Uji coba WDD di Pelabuhan Yos Sudarso menjadi salah satu langkah BKSDA Maluku dalam memperkuat sistem perlindungan keanekaragaman hayati. Pengamanan lima Kasturi Ternate menunjukkan pentingnya pemeriksaan dan deteksi terhadap lalu lintas satwa melalui jalur transportasi. Ke depan, koordinasi lintas instansi dan pemanfaatan metode deteksi yang lebih efektif diharapkan dapat terus dikembangkan. Satwa yang telah diamankan juga perlu mendapatkan penanganan terbaik agar memiliki peluang untuk kembali ke habitat alaminya. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan satwa liar sekaligus menekan peredaran satwa dilindungi di wilayah Maluku.