Palangka Raya, 8 September 2026 – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan selama musim kemarau. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan pencegahan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat agar setiap potensi kebakaran dapat dikendalikan sejak dini dan dampaknya terhadap masyarakat diminimalkan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan personel gabungan, operasi pemadaman darat dan udara, pemantauan titik panas serta pendistribusian air bersih ke sejumlah kabupaten dan kota. Pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap dampak kabut asap pada kesehatan masyarakat karena aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah. Penanganan karhutla dan kekeringan karena itu dijalankan secara bersamaan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi kemarau yang masih berlangsung di Kalimantan Tengah.
Kesiapsiagaan menghadapi karhutla diperkuat dengan menyiagakan sekitar 10.700 personel gabungan yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api serta berbagai pihak terkait. Operasi darat turut mendapatkan dukungan enam unit helikopter dan satu pesawat untuk operasi modifikasi cuaca maupun patroli. Berdasarkan pembaruan data pada 7 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 1.727 titik panas dalam perkembangan harian di Kalimantan Tengah. Pada periode yang sama terdapat 47 kejadian karhutla dengan estimasi luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 100,44 hektare. Besarnya jumlah titik panas membuat seluruh unsur yang terlibat diminta mempertahankan kesiapsiagaan meskipun kondisi kebakaran di setiap wilayah dapat berubah mengikuti cuaca dan kondisi lahan.
Sebaran titik panas menunjukkan sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian lebih besar dalam operasi penanganan. Kabupaten Katingan tercatat memiliki 338 titik panas dalam perkembangan harian, disusul Pulang Pisau sebanyak 299 titik, Seruyan 297 titik, Kotawaringin Timur 271 titik dan Kota Palangka Raya 155 titik. Berdasarkan luas area terbakar harian, Kabupaten Kapuas berada di posisi tertinggi dengan sekitar 46 hektare, kemudian Seruyan 12,5 hektare, Gunung Mas 10,52 hektare, Kotawaringin Timur 10 hektare serta Kotawaringin Barat 9,25 hektare. Kapuas juga mencatat sembilan kejadian karhutla dalam periode tersebut, sedangkan Seruyan dan Palangka Raya masing-masing tujuh kejadian. Data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan prioritas pengerahan personel maupun peralatan agar sumber daya dapat diarahkan ke lokasi yang mempunyai tingkat kerawanan lebih tinggi.
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 7 September 2026, sebanyak 104.140 titik panas telah terpantau di wilayah Kalimantan Tengah dengan 2.698 kejadian karhutla. Luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai sekitar 8.139,12 hektare, sedangkan perhitungan menggunakan citra satelit Landsat menunjukkan area terindikasi terbakar sekitar 7.634 hektare. Kotawaringin Timur mencatat jumlah titik panas kumulatif terbanyak dengan 20.570 titik, kemudian Kapuas 18.135 titik, Palangka Raya 15.143 titik, Pulang Pisau 11.542 titik dan Katingan 9.315 titik. Dari sisi luas kebakaran kumulatif, Kotawaringin Timur juga mencatat angka terbesar dengan 2.423,24 hektare, disusul Kotawaringin Barat 1.082,74 hektare dan Seruyan 1.028,64 hektare. Peningkatan aktivitas paling signifikan terjadi pada Agustus ketika tercatat 71.350 titik panas dan 1.444 kejadian karhutla dengan area terbakar sekitar 4.898,06 hektare.
Selain operasi pemadaman darat, pemerintah daerah terus mengoptimalkan intervensi udara untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit didatangi petugas. Gubernur sebelumnya meminta operasi water bombing diperkuat dan diarahkan terutama pada titik-titik yang mempunyai tingkat kerawanan serta dampak tinggi. Pemadaman udara tetap harus terintegrasi dengan personel darat karena lahan yang telah disiram dari udara perlu diperiksa kembali untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala. Kawasan gambut menjadi salah satu perhatian karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca sebagai bagian dari strategi mengendalikan karhutla dan mengurangi risiko meluasnya kebakaran selama kondisi cuaca kering.
Dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat turut menjadi perhatian karena kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Data pemerintah daerah mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA secara kumulatif telah mencapai 79.081 orang, dengan 6.734 kasus tercatat pada pekan keempat Agustus 2026. Pemerintah menyiapkan 150 lokasi Rumah Oksigen sebagai salah satu langkah mitigasi bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan ketika kualitas udara memburuk. Pembelajaran Jarak Jauh juga didukung untuk diterapkan di sembilan kabupaten dan kota dengan menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah. Perlindungan masyarakat tersebut berjalan bersamaan dengan distribusi masker, vitamin dan penyediaan fasilitas kesehatan serta kebutuhan dasar lain di wilayah yang mengalami dampak karhutla dan kabut asap.
Di tengah penanganan kebakaran, musim kemarau juga menyebabkan sebagian masyarakat mengalami keterbatasan mendapatkan air bersih sehingga distribusi bantuan terus dilakukan. Pada 5 September 2026 saja, Pemprov Kalimantan Tengah menyalurkan sedikitnya 101.800 liter air bersih kepada masyarakat di sejumlah wilayah terdampak. Distribusi menjangkau Kabupaten Kotawaringin Barat, Kota Palangka Raya, Barito Timur, Barito Utara, Murung Raya, Seruyan dan Kotawaringin Timur. Bantuan dikirim menggunakan armada yang tersedia menuju desa-desa yang sumber airnya mengalami penurunan akibat kemarau. Penyaluran air bersih menjadi bagian penting dari penanganan karena kebutuhan untuk minum, memasak, mandi dan aktivitas rumah tangga harus tetap dipenuhi selama sumber air masyarakat belum kembali normal.
Penyaluran tersebut dilakukan langsung hingga tingkat desa dengan volume yang disesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah. Di Kotawaringin Barat, bantuan antara lain menjangkau Desa Bumi Harjo, Pandu Sanjaya, Pangkalan Satu, Ipuh Bangun Jaya, Natai Baru dan Sukajaya, sementara di Palangka Raya distribusi dilakukan di Sei Gohong. Bantuan juga dikirim ke Desa Unsum di Barito Timur dan Parangkampeng di Barito Utara, serta sejumlah desa di Murung Raya dan Seruyan. Untuk Kotawaringin Timur, masing-masing 5.000 liter disalurkan ke Basirih Hulu, Samuda Kota, Pontren Jaya Karet dan Jaya Karet Bawah. Pemerintah daerah berupaya memastikan distribusi tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau desa yang mengalami keterbatasan akses terhadap sumber air selama kemarau.
Pemprov Kalimantan Tengah menegaskan penanganan akan terus dilakukan selama ancaman karhutla dan kekeringan masih berlangsung. Masyarakat kembali diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas. Hingga 7 September, pemerintah juga mencatat 32 penanganan penegakan hukum terkait karhutla sebagai bagian dari upaya menekan terjadinya pembakaran lahan. Sinergi antara pemerintah, aparat, dunia usaha dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting karena luasnya wilayah Kalimantan Tengah membuat pengawasan tidak mungkin hanya mengandalkan petugas pemerintah. Dengan pemadaman, pencegahan, perlindungan kesehatan dan distribusi air bersih yang dilakukan secara bersamaan, pemerintah berharap dampak musim kemarau terhadap masyarakat dan lingkungan dapat ditekan hingga kondisi kembali membaik.