Jakarta, 26 Agustus 2026 – Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun atau bahkan lebih untuk memulihkan persediaan sejumlah rudal setelah digunakan dalam operasi militer melawan Iran. Perkiraan tersebut terutama berkaitan dengan rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD yang digunakan dalam jumlah besar untuk menghadapi serangan rudal Iran. Sejumlah analis menilai kemampuan produksi industri pertahanan Amerika Serikat belum cukup cepat untuk mengganti persediaan yang terkuras dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena rudal-rudal tersebut juga dibutuhkan untuk menghadapi potensi konflik lain dan memenuhi kebutuhan sekutu Amerika Serikat. Perang dengan Iran sekaligus memperlihatkan kesenjangan antara kecepatan penggunaan persenjataan modern dalam pertempuran dan waktu yang dibutuhkan industri untuk memproduksinya kembali.
Analisis Center for Strategic and International Studies atau CSIS menunjukkan bahwa penggunaan rudal pencegat Amerika selama perang Iran telah mengurangi persediaan dalam jumlah signifikan. Untuk sistem Patriot, perkiraan penggunaan mencapai sekitar 45 hingga 61 persen dari persediaan sebelum perang. Sementara itu, penggunaan rudal pencegat THAAD diperkirakan mencapai sekitar 53 hingga 81 persen dari stok awal. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap persediaan pertahanan udara Amerika bukan sekadar persoalan pengadaan rutin, melainkan sudah menyentuh kemampuan strategis yang diperlukan untuk menghadapi serangan rudal balistik. Jika penggunaan dalam jumlah besar kembali terjadi, waktu pemulihan persediaan berpotensi menjadi lebih panjang.
Persoalan tersebut muncul karena Patriot dan THAAD termasuk persenjataan yang memiliki proses produksi sangat kompleks. Sistem tersebut membutuhkan komponen elektronik, perangkat komputasi, sensor, serta berbagai material khusus yang tidak dapat diproduksi secara massal dalam waktu singkat. Para ahli yang dikutip dalam analisis mengenai kondisi persediaan Amerika menyebut kompleksitas rantai pasok menjadi salah satu faktor yang membuat peningkatan produksi membutuhkan waktu. Bahkan ketika kontrak baru telah diberikan kepada perusahaan pertahanan, fasilitas produksi tetap memerlukan waktu untuk meningkatkan kapasitas. Situasi itu membuat pengadaan baru tidak dapat langsung menggantikan seluruh rudal yang telah digunakan dalam operasi militer.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Amerika Serikat tidak hanya harus memikirkan kebutuhan perang di Timur Tengah. Sistem Patriot dan THAAD juga menjadi bagian penting dari kemampuan pertahanan Amerika dalam menghadapi ancaman rudal dari negara lain, termasuk dalam skenario konflik di kawasan Indo-Pasifik. Persediaan yang berkurang berarti militer Amerika memiliki lebih sedikit pilihan apabila harus menghadapi konflik besar lainnya dalam waktu berdekatan. Selain kebutuhan domestik, Washington juga harus mempertimbangkan permintaan dari negara-negara sekutu yang membutuhkan sistem pertahanan udara. Pengurangan stok dengan demikian dapat memengaruhi kemampuan Amerika untuk mempertahankan kesiapan militer sekaligus memenuhi komitmen pertahanannya terhadap negara mitra.
Rudal jelajah dan persenjataan serang jarak jauh juga menghadapi persoalan serupa meskipun waktu pemulihannya berbeda-beda. Analisis mengenai dampak perang menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah digunakan selama konflik, sementara persediaan sejumlah sistem lain juga mengalami pengurangan. CSIS memperkirakan pemulihan stok Tomahawk ke tingkat sebelum perang dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 2030 atau 2031. Untuk beberapa sistem lain seperti SM-3 dan SM-6, pemulihan diperkirakan membutuhkan sekitar dua hingga tiga tahun. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua jenis rudal dapat diproduksi kembali dengan kecepatan yang sama, karena setiap sistem memiliki rantai pasok dan kapasitas produksi yang berbeda.
Pemerintah Amerika Serikat telah mengambil langkah untuk meningkatkan kemampuan produksi sebagai respons terhadap berkurangnya persediaan. Lockheed Martin memperoleh kontrak besar untuk meningkatkan produksi rudal Patriot, sementara perusahaan tersebut juga mendapatkan kontrak tambahan untuk memperbesar kapasitas produksi THAAD. Berdasarkan rencana perusahaan, kapasitas produksi Patriot akan ditingkatkan secara bertahap hingga beberapa kali lipat pada akhir dekade ini. Kapasitas produksi THAAD juga ditargetkan meningkat secara signifikan melalui kontrak jangka panjang. Namun, peningkatan kapasitas tersebut tidak berarti seluruh persediaan dapat segera kembali ke tingkat sebelum perang karena proses produksi membutuhkan waktu, mulai dari pengadaan komponen hingga perakitan dan pengujian.
Kondisi ini juga menjadi pelajaran mengenai pentingnya kesiapan industri pertahanan dalam menghadapi perang modern. Konflik berskala besar dapat menghabiskan persenjataan presisi dalam jumlah jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri untuk menggantinya. Dalam situasi tersebut, negara dengan persediaan besar sekalipun dapat menghadapi tekanan apabila konflik berlangsung lama atau membutuhkan penggunaan rudal secara terus-menerus. Amerika Serikat memiliki kapasitas industri pertahanan yang sangat besar, tetapi sejumlah sistem berteknologi tinggi tetap memiliki batas produksi karena menggunakan komponen khusus. Karena itu, perang di Iran mendorong perhatian lebih besar terhadap kebutuhan memperluas kapasitas manufaktur dan memastikan rantai pasok tetap tersedia.
Dampak pengurangan persediaan juga berpotensi dirasakan oleh negara-negara yang selama ini mengandalkan sistem pertahanan Amerika. Ukraina menjadi salah satu negara yang membutuhkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi serangan rudal dan drone. Ketika kebutuhan Amerika sendiri meningkat, pengiriman sistem serta rudal kepada sekutu dapat menghadapi persaingan dengan kebutuhan untuk mengisi kembali gudang senjata Amerika. Situasi tersebut dapat memaksa Washington menentukan prioritas antara mempertahankan kesiapan militernya sendiri dan memenuhi kebutuhan pertahanan negara mitra. Perhitungan semacam ini menjadi semakin kompleks apabila terjadi lebih dari satu konflik besar secara bersamaan.
Bagi Amerika Serikat, kebutuhan waktu sekitar tiga tahun untuk memulihkan sejumlah stok rudal menunjukkan bahwa dampak perang dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan operasi militernya sendiri. Persenjataan yang digunakan dalam hitungan hari atau bulan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi kembali dalam jumlah besar. Pemerintah kini menghadapi kebutuhan untuk mempercepat produksi sekaligus menjaga kualitas dan keamanan sistem yang digunakan. Tantangan tersebut juga menuntut investasi berkelanjutan terhadap industri pertahanan, tenaga kerja terampil, fasilitas manufaktur, serta rantai pasok komponen strategis. Tanpa peningkatan kapasitas yang memadai, penggunaan persenjataan dalam konflik berikutnya dapat kembali menimbulkan tekanan terhadap persediaan.
Perkiraan tiga tahun tersebut pada akhirnya menggambarkan besarnya beban yang ditinggalkan perang Iran terhadap kemampuan persenjataan Amerika Serikat. Patriot dan THAAD menjadi contoh paling jelas karena penggunaannya dalam jumlah besar membuat proses pengisian kembali persediaan membutuhkan waktu panjang. Pada saat yang sama, sejumlah rudal serang seperti Tomahawk juga membutuhkan beberapa tahun untuk mencapai kembali tingkat persediaan sebelum perang. Amerika Serikat telah mengambil langkah memperbesar kapasitas produksi, tetapi hasilnya tidak dapat dirasakan secara instan karena kompleksitas pembuatan senjata modern. Perkembangan tersebut membuat pemulihan persediaan rudal menjadi salah satu pekerjaan strategis Washington dalam beberapa tahun mendatang, terutama untuk memastikan kesiapan menghadapi ancaman baru sekaligus mempertahankan kemampuan memenuhi kebutuhan para sekutunya.