Muaro Jambi, 4 September 2026 – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi menilai penyelenggaraan Gebyar Ekonomi Digital dan Literasi atau Gentala Arasi 2026 menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong inovasi sekaligus memperluas adopsi ekonomi dan keuangan digital di daerah. Kegiatan yang berlangsung pada 3–6 September 2026 tersebut dipusatkan di Museum Sriwijaya Dharmakirti, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Gentala Arasi tahun ini membawa konsep yang menggabungkan edukasi, kebudayaan, ekonomi, dan digitalisasi dalam satu kawasan. BI Jambi ingin perkembangan teknologi pembayaran tidak hanya terkonsentrasi pada masyarakat perkotaan, tetapi juga semakin dekat dengan sektor pariwisata, pelaku UMKM, generasi muda, serta masyarakat di berbagai wilayah. Pemanfaatan teknologi diharapkan memberikan kemudahan transaksi sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru yang dapat mendukung pertumbuhan daerah. Gentala Arasi juga terbuka secara gratis sehingga masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan edukasi dan mengenal secara langsung perkembangan layanan ekonomi digital.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi Tedy Arief Budiman menjelaskan Gentala Arasi merupakan agenda tahunan yang terus dikembangkan sebagai wadah akselerasi transformasi ekonomi dan keuangan digital. Program tersebut telah diselenggarakan sejak 2023 dan dirancang untuk mempertemukan pemerintah daerah, industri sistem pembayaran, lembaga keuangan, pelaku usaha, akademisi, komunitas, serta masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan karena transformasi digital tidak dapat berjalan hanya melalui pembangunan teknologi. Masyarakat juga harus mempunyai pemahaman mengenai cara menggunakan layanan secara aman, efisien, dan sesuai kebutuhan. Pelaku usaha pada saat yang sama perlu memiliki kemampuan mengintegrasikan pembayaran digital ke dalam aktivitas bisnis mereka. Karena itu, Gentala Arasi ditempatkan bukan sekadar sebagai kegiatan pameran, tetapi menjadi ruang edukasi dan pengembangan ekosistem digital secara lebih luas.
Gentala Arasi 2026 mengusung tema Center of Excellence dengan konsep yang menempatkan KCBN Muaro Jambi sebagai ruang pembelajaran sekaligus pusat aktivitas ekonomi digital. Pemilihan kawasan bersejarah tersebut memiliki tujuan untuk memperlihatkan bahwa transformasi teknologi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya. Masyarakat yang berkunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman wisata sejarah, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai inovasi pembayaran dan layanan digital. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda dibandingkan penyelenggaraan kegiatan ekonomi digital yang hanya berlangsung di pusat perbelanjaan atau gedung pertemuan. Integrasi antara pariwisata dan digitalisasi juga dinilai berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. Semakin banyak wisatawan yang menggunakan transaksi digital, semakin besar pula peluang pelaku usaha lokal masuk ke dalam ekosistem pembayaran modern.
Digitalisasi sistem pembayaran menjadi salah satu fokus utama yang terus diperkuat BI Jambi melalui kegiatan tersebut. Penggunaan QRIS telah berkembang menjadi instrumen penting karena memungkinkan masyarakat melakukan transaksi menggunakan berbagai aplikasi pembayaran dengan satu standar kode QR. Bagi pelaku UMKM, sistem tersebut memberikan alternatif pembayaran yang relatif sederhana tanpa membutuhkan perangkat pembayaran yang kompleks. Konsumen juga memperoleh kemudahan karena transaksi dapat dilakukan melalui perangkat seluler yang digunakan sehari-hari. BI Jambi ingin peningkatan jumlah pengguna berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas pemanfaatannya. Artinya, masyarakat tidak hanya memiliki aplikasi pembayaran digital, tetapi benar-benar memahami fungsi, keamanan, dan manfaat teknologi tersebut dalam aktivitas ekonomi.
Pengembangan pembayaran digital juga diarahkan menuju sektor pemerintahan melalui Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah. Digitalisasi penerimaan maupun pengeluaran pemerintah dapat membantu menciptakan proses transaksi yang lebih efisien, transparan, dan mudah ditelusuri. Pembayaran pajak serta retribusi secara digital, misalnya, dapat mengurangi ketergantungan terhadap transaksi tunai sekaligus memberikan kemudahan kepada masyarakat. Data transaksi yang tercatat secara elektronik juga membantu pemerintah daerah melakukan pengelolaan penerimaan secara lebih terukur. BI Jambi terus mendorong pemerintah kabupaten dan kota memperluas implementasi sistem tersebut sesuai kesiapan masing-masing daerah. Gentala Arasi menjadi salah satu ruang untuk memperlihatkan perkembangan digitalisasi sekaligus memberikan apresiasi terhadap pemerintah daerah yang menunjukkan kemajuan dalam penerapannya.
Pelaku UMKM menjadi kelompok yang mendapat perhatian besar karena digitalisasi dapat membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau melalui metode penjualan konvensional. Teknologi memungkinkan usaha kecil menerima pembayaran secara nontunai, memasarkan produk melalui platform digital, serta menggunakan pencatatan transaksi untuk memperbaiki pengelolaan bisnis. Data yang tercipta dari transaksi digital juga dapat membantu pelaku usaha memahami pola penjualan dan menentukan strategi pengembangan. Namun perubahan tersebut membutuhkan peningkatan kemampuan agar UMKM tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi. Pelaku usaha harus memahami pengelolaan keuangan, perlindungan akun, keamanan transaksi, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakter konsumen digital. Edukasi melalui Gentala Arasi diharapkan membantu memperkecil kesenjangan kemampuan tersebut.
Selain kemudahan transaksi, BI Jambi memberikan perhatian terhadap aspek perlindungan konsumen dalam perkembangan ekonomi digital. Pertumbuhan transaksi elektronik dapat diikuti berbagai risiko seperti penipuan, manipulasi informasi, pencurian data, hingga modus yang memanfaatkan ketidaktahuan pengguna. Karena itu, peningkatan literasi harus berjalan seimbang dengan peningkatan penggunaan teknologi. Masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga PIN, kode OTP, kata sandi, dan berbagai informasi pribadi yang dapat digunakan untuk mengakses akun keuangan. Pengguna juga harus mampu mengenali saluran pembayaran resmi dan tidak mudah mengikuti instruksi pihak yang mengatasnamakan lembaga tertentu. Ekosistem digital yang sehat membutuhkan pengguna yang tidak hanya aktif bertransaksi, tetapi juga mempunyai kemampuan melindungi dirinya ketika berada di ruang digital.
Keterlibatan generasi muda menjadi bagian lain yang diperkuat dalam Gentala Arasi 2026. Kelompok muda merupakan salah satu pengguna teknologi paling aktif sehingga memiliki posisi penting dalam mempercepat perubahan kebiasaan transaksi masyarakat. Namun tingkat penggunaan yang tinggi tidak selalu berarti tingkat literasi keuangan juga tinggi. Generasi muda tetap membutuhkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, penggunaan layanan pembayaran secara bertanggung jawab, serta kemampuan membedakan produk keuangan legal dan aktivitas yang berisiko. Berbagai kegiatan edukatif disiapkan agar materi mengenai ekonomi digital dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter anak muda. BI berharap kelompok tersebut kemudian dapat menjadi penggerak literasi digital di lingkungan keluarga maupun komunitas masing-masing.
Penyelenggaraan Gentala Arasi di kawasan Muaro Jambi sekaligus membuka peluang untuk memperluas digitalisasi pada sektor pariwisata. Wisatawan membutuhkan sistem pembayaran yang praktis ketika membeli tiket, makanan, produk UMKM, suvenir, maupun menggunakan berbagai layanan di sekitar destinasi. Apabila pelaku usaha telah menerima transaksi digital, aktivitas ekonomi dapat berlangsung lebih mudah tanpa bergantung sepenuhnya pada uang tunai. Rekam transaksi juga memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi yang berkembang di kawasan wisata sehingga dapat digunakan sebagai salah satu bahan evaluasi. Pengembangan ekosistem tersebut membutuhkan keterlibatan pengelola destinasi, pemerintah daerah, pelaku UMKM, penyedia jasa pembayaran, dan masyarakat. KCBN Muaro Jambi diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana kawasan budaya dan pariwisata memanfaatkan teknologi tanpa menghilangkan karakter sejarahnya.
BI Jambi berharap Gentala Arasi 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan selama empat hari, tetapi menghasilkan perubahan penggunaan teknologi yang berkelanjutan di masyarakat. Inovasi ekonomi digital dinilai baru memberikan manfaat maksimal apabila dapat meningkatkan efisiensi, memperluas inklusi keuangan, membantu UMKM berkembang, serta memperkuat transparansi transaksi pemerintah. Kolaborasi antara BI, pemerintah daerah, industri, komunitas, akademisi, dan masyarakat karena itu akan terus dibutuhkan setelah rangkaian acara berakhir. Pengalaman penyelenggaraan Gentala Arasi dari tahun ke tahun juga akan menjadi bahan untuk memperluas program literasi dan digitalisasi pada wilayah yang masih membutuhkan pendampingan. Dengan semakin luasnya adopsi pembayaran digital dan meningkatnya kemampuan masyarakat menggunakannya secara aman, transformasi ekonomi Jambi diharapkan berlangsung lebih inklusif. Gentala Arasi pada akhirnya diarahkan menjadi jembatan yang menghubungkan inovasi teknologi dengan pertumbuhan ekonomi daerah, penguatan UMKM, pariwisata, dan peningkatan literasi keuangan masyarakat.