Jakarta, 5 September 2026 – Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengajak generasi muda Indonesia untuk terlibat langsung dalam berbagai program kepemudaan yang disiapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ajakan tersebut disampaikan Erick saat menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Muda Untuk Rakyat (GEMURA) di Jakarta, Sabtu. Menurutnya, pemerintah tidak ingin program kepemudaan hanya disusun dari atas tanpa memberikan ruang bagi anak muda untuk menjadi pelaku utama di dalamnya. Generasi muda justru didorong mengisi kegiatan, menyampaikan gagasan, sekaligus membangun kemampuan yang relevan dengan perubahan zaman. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan pemuda sebagai salah satu pilar utama pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Kemenpora karena itu berupaya menyediakan ruang yang dapat mempertemukan pengembangan karakter, kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan menghadapi persoalan masa depan.
Erick mengatakan sejumlah program dirancang agar anak muda tidak hanya menjadi peserta pasif, melainkan ikut menentukan substansi kegiatan yang mereka jalani. Salah satu bentuknya adalah kompetisi debat yang membahas isu-isu aktual dan dekat dengan masa depan generasi muda. Topik seperti kesehatan mental, ekonomi hijau, dan ekonomi digital akan menjadi bagian dari ruang diskusi yang diberikan kepada peserta. Pemilihan tema tersebut dimaksudkan agar pemuda memahami perubahan yang sedang terjadi sekaligus mampu menyusun gagasan berdasarkan persoalan nyata. Kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan argumentasi dinilai semakin penting ketika kompetisi global berlangsung semakin cepat. Anak muda juga perlu memahami berbagai isu lintas sektor agar tidak tertinggal ketika memasuki dunia pendidikan lanjutan, pekerjaan, maupun kepemimpinan.
Pemerintah pada saat yang sama ingin membangun karakter pemuda Indonesia berdasarkan tiga nilai utama, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Ketiga nilai tersebut menjadi bagian dari Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia yang disiapkan Kemenpora sebagai fondasi pembangunan generasi muda. Patriotisme diperlukan untuk menjaga identitas dan kepedulian terhadap bangsa, sedangkan kegigihan dibutuhkan agar generasi muda mempunyai daya tahan menghadapi tantangan serta persaingan. Empati juga ditempatkan sebagai unsur penting karena kemampuan memahami kondisi orang lain diperlukan dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Erick menilai kualitas generasi muda tidak cukup hanya diukur dari kemampuan akademik maupun penguasaan teknologi. Karakter yang kuat harus berjalan bersama keterampilan agar anak muda dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negara.
Salah satu program unggulan yang disiapkan untuk menerjemahkan pendekatan tersebut adalah Wirasena Youth Camp 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenpora dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjaring talenta pemuda dari 38 provinsi di Indonesia. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 31 Oktober 2026 dengan melibatkan sekitar 168 peserta terpilih dari berbagai wilayah. Selama mengikuti kegiatan, peserta akan mendapatkan pengalaman yang diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan, wawasan kebangsaan, kerja sama, serta kemampuan menyelesaikan masalah. Pertemuan anak muda dari seluruh provinsi juga diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman mengenai kondisi dan tantangan yang berbeda di setiap daerah. Jaringan yang terbentuk melalui kegiatan tersebut diharapkan tetap berkembang setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.
Wirasena Youth Camp tidak berdiri sebagai program tunggal karena Kemenpora menyiapkan sejumlah jalur pengembangan generasi muda lainnya. Terdapat Wirasena Debate & Speech Competition yang diarahkan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis serta komunikasi publik. Kemenpora juga menyiapkan program magang pemuda agar peserta mendapatkan pengalaman langsung di lingkungan kerja dan memahami kebutuhan profesional. Selain itu, terdapat Indonesia Youth Summit yang dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan, aspirasi, dan rekomendasi mengenai pembangunan kepemudaan. Sejumlah peserta terbaik nantinya berpeluang memperoleh kesempatan mengikuti program pertukaran pemuda antarnegara. Rangkaian tersebut menunjukkan pembangunan kepemudaan diarahkan melalui kombinasi penguatan karakter, pengetahuan, pengalaman, dan perluasan jaringan.
Erick sebelumnya menegaskan Indonesia Youth Summit diharapkan menjadi momentum konsolidasi berbagai gagasan mengenai arah pembangunan pemuda Indonesia. Pemerintah ingin mendengarkan perspektif generasi muda karena mereka akan menghadapi langsung berbagai perubahan sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknologi dalam beberapa dekade mendatang. Forum tersebut sekaligus diarahkan untuk menyongsong perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Momentum historis tersebut ingin dimanfaatkan untuk kembali memperkuat posisi pemuda sebagai penggerak perubahan nasional. Jika Sumpah Pemuda 1928 menjadi salah satu tonggak persatuan bangsa, generasi sekarang diharapkan mampu menerjemahkan semangat yang sama dalam menghadapi tantangan baru. Bentuk perjuangannya dapat berkembang melalui inovasi, kewirausahaan, teknologi, kepedulian lingkungan, pendidikan, maupun aktivitas sosial.
Perhatian terhadap ekonomi digital menjadi penting karena perkembangan teknologi telah mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Generasi muda akan menghadapi semakin banyak pekerjaan yang membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan teknologi, data, kecerdasan buatan, dan berbagai model bisnis baru. Ekonomi hijau juga diperkirakan membuka peluang pekerjaan sekaligus kewirausahaan seiring meningkatnya perhatian terhadap energi bersih dan pembangunan berkelanjutan. Pada sisi lain, kesehatan mental menjadi persoalan yang perlu dipahami karena tekanan sosial dan perubahan pola kehidupan dapat memengaruhi perkembangan anak muda. Kemenpora ingin isu-isu tersebut dibicarakan secara terbuka dalam ruang pengembangan kepemudaan. Dengan demikian, program pemerintah tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga menyentuh tantangan yang benar-benar dihadapi generasi muda.
Kebijakan kepemudaan tersebut menjadi salah satu dari tiga pilar utama arah program Kemenpora bersama pembudayaan olahraga dan peningkatan prestasi olahraga. Pemerintah menargetkan kualitas kepemudaan meningkat melalui program yang semakin terintegrasi dan memberikan pengalaman nyata kepada peserta. Dalam pelaksanaannya, Kemenpora juga berupaya membangun sinergi dengan pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi dibutuhkan karena pembangunan pemuda tidak dapat dilakukan satu kementerian secara mandiri mengingat kebutuhan generasi muda menyentuh pendidikan, ketenagakerjaan, kewirausahaan, teknologi, kesehatan, hingga kehidupan sosial. Pemerintah daerah mempunyai posisi strategis karena memahami potensi dan kebutuhan pemuda di wilayah masing-masing. Program nasional karena itu perlu diterjemahkan secara fleksibel agar dapat menjangkau anak muda dengan latar belakang yang semakin beragam.
Keterlibatan organisasi kepemudaan seperti GEMURA juga dinilai dapat membantu memperluas ruang partisipasi anak muda. Organisasi dapat menjadi tempat generasi muda belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, serta tanggung jawab sosial melalui pengalaman langsung. Namun Erick mengingatkan pembangunan pemuda perlu diarahkan pada kegiatan yang mempunyai manfaat konkret dan mampu meningkatkan kapasitas anggotanya. Pemuda harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan gagasan sekaligus membuktikan kemampuan melalui kegiatan yang produktif. Ruang partisipasi juga perlu terbuka bagi anak muda dari berbagai daerah dan latar belakang sehingga kesempatan berkembang tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pendekatan inklusif tersebut menjadi penting untuk memastikan bonus demografi dapat menghasilkan kekuatan pembangunan yang merata.
Erick berharap generasi muda memanfaatkan berbagai program Kemenpora sebagai ruang untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberikan gagasan bagi masa depan Indonesia. Pemerintah akan berusaha menyediakan ekosistem, sementara anak muda didorong mengambil peran aktif dalam menentukan bagaimana kesempatan tersebut dimanfaatkan. Program seperti Youth Camp, kompetisi debat, magang, Youth Summit, dan pertukaran pemuda diharapkan menjadi jalur pembelajaran yang saling melengkapi. Dalam jangka panjang, pemerintah ingin menghasilkan generasi yang mempunyai karakter kuat, kemampuan beradaptasi, wawasan luas, serta kepedulian terhadap masyarakat. Tantangan menuju Indonesia Emas 2045 dinilai membutuhkan pemuda yang tidak hanya siap memasuki masa depan, tetapi juga mempunyai keberanian menciptakan perubahan. Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam program Kemenpora akan terus diperluas agar mereka mempunyai ruang nyata untuk tumbuh sekaligus berkontribusi bagi pembangunan bangsa.