Jakarta, 4 Oktober 2026 – Istilah self-care semakin sering digunakan untuk menggambarkan berbagai aktivitas yang dilakukan seseorang guna menjaga kesehatan dan kesejahteraan dirinya. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan relaksasi atau memanjakan diri, tetapi mencakup kebiasaan yang membantu menjaga kesehatan fisik maupun mental. WHO mendefinisikan self-care sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk meningkatkan serta mempertahankan kesehatan, mencegah penyakit, dan menghadapi kondisi sakit dengan atau tanpa dukungan tenaga kesehatan.
Dalam praktik sehari-hari, self-care dapat dimulai dari kebutuhan dasar tubuh. Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, aktif bergerak, serta menjaga hubungan sosial termasuk dalam bentuk perawatan diri. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang mempertahankan kondisi tubuh sekaligus mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.
Perawatan diri juga mencakup perhatian terhadap kondisi emosional. Seseorang dapat menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai, menjaga hubungan dengan keluarga atau teman, serta mengenali situasi yang menimbulkan tekanan. Menjaga pola tidur, melakukan aktivitas fisik, dan tetap terhubung dengan orang lain merupakan beberapa langkah yang dapat mendukung kesehatan mental.
Manfaat self-care antara lain membantu seseorang lebih aktif dalam menjaga kesehatannya sendiri. Kebiasaan tersebut juga dapat meningkatkan kemampuan mengenali kebutuhan tubuh dan mengetahui kapan diperlukan bantuan dari tenaga profesional. Dalam konteks kesehatan yang lebih luas, perawatan diri memberikan pilihan tambahan kepada masyarakat untuk menjaga kesejahteraan dengan tetap terhubung pada sistem pelayanan kesehatan.
Cara menerapkan self-care tidak harus membutuhkan biaya besar atau kegiatan khusus. Menetapkan waktu tidur yang teratur, berjalan kaki, menyediakan waktu istirahat, membatasi kebiasaan yang mengganggu kesehatan, serta berkomunikasi dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal. Aktivitas yang dipilih sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, dan rutinitas masing-masing orang.
Meski bermanfaat, self-care tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter, psikolog, maupun tenaga kesehatan lainnya. Beberapa kondisi tetap membutuhkan pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, atau pendampingan profesional. WHO menempatkan perawatan diri sebagai pelengkap sistem kesehatan sehingga seseorang tetap perlu mencari pertolongan ketika menghadapi keluhan yang menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, self-care dapat dipahami sebagai kebiasaan menjaga diri secara sadar dan berkelanjutan, bukan sekadar aktivitas sesekali ketika sedang lelah. Bentuknya dapat berbeda pada setiap orang karena kebutuhan fisik, emosional, sosial, dan kondisi kehidupannya juga berbeda. Dengan menerapkan kebiasaan sederhana secara konsisten sekaligus mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional, perawatan diri dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup.