Jakarta, 9 Mei 2026 – Militer United States dilaporkan menyerang dua kapal tanker berbendera Iran yang disebut mencoba menembus blokade maritim di kawasan Teluk Oman dan Selat Hormuz. Insiden ini menjadi bagian terbaru dari meningkatnya ketegangan antara kedua negara di kawasan Timur Tengah.
Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), dua kapal tanker bernama Sea Star III dan Sevda dihentikan setelah dianggap melanggar blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran sejak April lalu. Militer AS menyebut kedua kapal tetap bergerak menuju pelabuhan Iran meski telah mendapat peringatan berulang kali.
Dalam operasi tersebut, jet tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut AS yang lepas landas dari kapal induk USS George H.W. Bush dilaporkan menembakkan amunisi presisi ke bagian cerobong asap kapal tanker untuk melumpuhkan operasional kapal tanpa menenggelamkannya.
Sebelumnya, AS juga dilaporkan menembaki kapal tanker Iran lain bernama Hasna menggunakan meriam 20 mm dari jet tempur Super Hornet setelah kapal tersebut disebut mengabaikan peringatan militer AS di Teluk Oman.
Pemerintah AS menegaskan blokade laut terhadap Iran masih diberlakukan sebagai bagian dari tekanan ekonomi dan keamanan terhadap Teheran di tengah konflik yang terus berkembang di kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menilai langkah AS sebagai tindakan provokatif dan pelanggaran terhadap kebebasan pelayaran internasional. Ketegangan antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir memang meningkat setelah konflik besar di kawasan Teluk dan penutupan jalur pelayaran strategis oleh Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung terhadap stabilitas perdagangan energi global dan harga minyak internasional.
Pengamat hubungan internasional menilai aksi militer terbaru ini menunjukkan situasi di kawasan masih sangat rapuh meski kedua pihak beberapa kali menyatakan mendukung upaya diplomasi dan gencatan senjata terbatas.
Hingga kini, dunia internasional terus memantau perkembangan konflik AS-Iran karena dikhawatirkan dapat memicu eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah dan mengganggu stabilitas ekonomi global.